Greetings

LET'S GET CRAZY WITH THIS BLOG



Minggu, 31 Oktober 2010

Membangun Kerangka Teoretis
Di dalam setiap penelitian, teori merupakan salah satu bagian yang terpenting khususnya pada penelitian yang berparadigma positivistic atau biasa disebut penelitian kuantitatif. Kerangka teoretis ini berguna dan sangat berperan terhadap proses penelitian sebagai salah satu elemen yang menjelaskan secara empiris setiap permasalahan yang difokuskan atau dipilih untuk kemudian dilakukan penelitian terhadapnya. Kerangka teoretis dalam hal ini menjelaskan fenomena empiris permasalahan yang ada dari fakta-fakta yang di dapat dengan menggunakan teori yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi. Sehingga tentunya dalam memilih teori yang akan digunakan harus benar-benar dicermati bagaimana teori tersebut memiliki signifikansi terhadap permasalahan yang diambil.
Dalam dua paradigma yang berbeda yang ada dalam penelitian yaitu paradigm positivistik dan post-positivis, tentunya kebutuhan akan peran teori pun berbeda. Dalam paradigm positivis atau sering juga dikenal sebagai prosedur kuantitatif peran teori adalah sangat diutamakan. Ini disebabkan teori dalam hal ini adalah kunci utama keilmiahan dan objektifitas dalam penelitian. Penelitian kuantitatif sangat membutuhkan teori yang jelas, focus, dan spesifik. Seluruh proses pengumpulan data serta analisis terhadap data tersebut semuanya berdasarkan teori. Seperti yang dinyatakan oleh Kerlinger bahwa teori merupakan satu set atau kumpulan preposisi logis yang menjelaskan hubungan antara variable dengan tujuan memberikan ekspalanasi logis suatu kenyataan empiris atau hubungan dari beberapa fenomena untuk menjelaskan atau bisa jadi memberikan prediksi terhadap gejala yang terjadi.
Untuk memahami tentang apa yang disebut teori, penulis mencoba menghadirkan beberapa karakteristik dari teori itu sendiri. Disini penulis memiliki patokan karakteristik teori sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Creswell yaitu pertama teori haruslah berisikan konsep dan variabel. Kedua, konsep dan variabel yang terdapat di dalam teori haruslah berupa satu pernyataan umum atau preposisi. Dalam hal ini biasanya teori adalah satu pernyataan sebab akibat seperti jika…maka..atau makin…semakin….[1]. Homans (1950) memberikan contoh akan hal ini seperti semakin tinggi derajat frekuensi interaksi antara dua orang, semakin tinggi pula derajat saling menyukai diantara mereka. Ketiga, sebuah teori harus secara sistematis menunjukkan bentuk pola, sifat dan arah serta bentuk hubungan antarvariabel. Yang terakhir teori haruslah mampu dan memang bertujuan untuk menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena tertentu. Jadi dari sini tampak bahwa teori tidaklah bersifat universal karena teori hanyalah kacamata yang menurut penulis subjektif untuk menelaah satu fenomena tertentu. Namun disisi lain teori tetap penting untuk membantu proses berpikir atau memberikan kerangka pemikiran bagi penelitian yang kemudian dari teori ini akan dikonstruksi hipotesis-hipotesis yang akan diuji validasinya sehingga teori akan membantu mendudukkan permasalahan penelitian secara nalar dan runtut.
Dalam hal lain, teori ini mampu untuk digunakan sebagai alat untuk kemudian mengkonstruksi fakta dan ide yang telah diperoleh dari penelitian baik itu penelitian yang sedang atau telah dilakukan sehingga analisanya menjadi lebih tajam dan dalam. Disini maka akan dijelaskan bagaimana hubungan dari setiap fenomena dan fakta yang ada dengan teori dan ide yang telah dipilih. Teori yang ditulis untuk menjelaskan gejala dan hubungan antar-fenomena inilah yang disebut sebagai kerangka teoretis. Paling tidak hal ini sama dengan yang dideskripsikan oleh Hussey dan Hussey yaitu “…..a collection of theories and models from the literature which underpins a positivistic research study……a fundamental part of this type of research (positivistic research) as it explains the research questions or hypothesis”. Sehingga sekali lagi dapat dikatakan bahwa kerangka teoretis secara umum menjelaskan hubungan variabel berdasarkan teori yang ada sehingga peneliti dapat lebih mudah dalam menyusun hipotesis beserta pengujiannya
Seperti yang telah dijelaskan diawal bahwa ada dua jenis penelitian yang tentunya teori berperan berbeda di setiap jenis penelitian. Untuk penelitian yang menginginkan adanya konfirmasi atau ingin membuktikan kebenaran teori maka teori akan menghasilkan hipotesis dan hipotesis ini sendiri merupakan satu atau beberapa kesimpulan logis yang di dapat dari fakta secara empiris yang kemudian akan diuji validitasnya.[2]Ini seringkali berlaku untuk penelitian-penelitian yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam meski tidak menutup kemungkinan ilmu sosial juga sering menggunakannya dengan metode yang sedikit berbeda. Namun sebaliknya, untuk penelitian yang tujuan akhirnya ingin membangun atau membentuk teori baru maka teori bukanlah pedoman yang kemudian membentuk hipotesis yang akan diuji melainkan dalam hal ini teori hanya merupakan hasil akhir dengan hipotesis yang juga telah diuji dan bersifat konsisten dari waktu ke waktu hingga ada teori lain yang muncul dan menggugurkan asumsi teori yang lama ini.
Seperti yang telah dijelaskan diatas, berbicara teori dan kerangka teoretis tidak bisa lepas dari apa itu hipotesis dan variabel. Hipotesis secara umum adalah suatu kesimpulan awal yang diperoleh dari data dan fakta yang nanti akan diuji. Hipotesis didapatkan melalui tahapan kerangka teoretis dan karena pada akhirnya hipotesis ini akan diuji validitasnya maka tentunya disini peran varibel akan sangat berpengaruh. Terdapat dua variabel utama dalam penelitian yang nantinya akan berpengaruh pada pengujian teori dan hipotesis. Variabel dependen sebagai variabel yang dipengaruhi dan variabel independen sebagai variabel yang mempengaruhi variabel dependen. Variabel dependen seringkali dikenal sebagai variabel terikat dan presumed effect variable karena merupakan akibat dari adanya variabel independen yang juga disebut sebagai variabel bebas dan presumed cause variable karena merupakan sebab dari munculnya variabel dependen.[3]
Di dalam kerangka teoretis haruslah menjelaskan hubungan antar-variabel yang ada dan hubungan langsung antara variabel tersebut (dependen-independen) seringkali menerima pengaruh dari beberapa variabel lainnya. Variabel yang sering mempengaruhi hubungan antar variabel dependen dan independen secara umum ada dua yaitu variabel moderat serta variabel intervening. Variabel moderat adalah variabel yang sengaja dipilih oleh pihak peneliti yang kemudian untuk menentukan apakah kehadirannya dapat berpengaruh terhadap hubungan antar variabel dependen dan independen. Variabel moderat adalah variabel yang faktornya dapat diukur dan dimanipulasi peneliti untuk mengetahui apakah dengan keberadaannya dapat mengubah atau tidak hubungan antar variabel.[4]Sedangkan variabel intervening adalah variabel yang mempengaruhi hubungan antarvariabel atau berada ditengah antara variabel dependen dan independen sehingga variabel independen tidak dapat mempengaruhi variabel dependen secara langsung.
Referensi
Kerlinger, Fred.N.1973.Foundation of Behavioral Research 2nd ed. New York: New York University
Silalahi, Ulber.2006. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Unpar Press.
[1] Homans (1950) dalam Ulber Silalahi. Metode Penelitian Sosial. 2006.hlm.97
[2] Dari Kinney (1996),Fakta dalam hal ini merupakan keadaan atau kejadian yang dapat diamati atau biasa disebut sebagai fenomena
[3] Variabel independen juga dapat disebut sebagai variabel yang mendahului (antecendent variable) dan variabel dependen sebagai variabel konsekuensi (consequent variable).
[4] Variable moderat (contingency variable)mampu mempengaruhi baik itu memperkuat ataupun memperlemah hubungan antara variabel dependen dan independen sehingga jelas adanya bahwa variabel modarat ini dapat mempengaruhi sifat dari hubungan antar variabel dan secara tidak langsung dapat menentukan apakah hubungan antar variabel tersebut positif ataukah negatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar